85. DZUL JALALI WAL IKRAM (Dzat Yang Maha Memiliki Kebesaran Dan Kemuliaan) Apabila seseorang bisa mnegendalikan hawa nafsunya, maka Allah Ta'ala akan memberikan kerajaan didalam hatinya sehingga dia bisa memimpin dirinya sendiri. Apabila dia bisa memimpin dirinya sendiri, maka Allah Ta'ala akan memberikan kesempatan kepada dirinya untuk dapat memimpin keluarganya dan orang lain. Akan tetapi apabila seseorang bisa seperti ini, maka godaannya sungguh sangat berat. Karena banyak sekali orang-orang yang memuji dan membesarkannya. Oleh sebab itu seharusnya kita ingat bahwa kepemimpinan itu hanyalah amanah dari Allah Ta'ala, sehingga yang patut dibesarkan hanyalah Allah Ta'ala. Jangan sekali-kali kita menjadi sombong. Karena kita bisa mengendalikan hawa nafsu dan memimpin orang lain semata-mata karena pertolongan Allah Ta'ala. Sebetulnya dengan kepemimpinan yang Allah Ta'ala berikan tersebut, Allah Ta'ala bermaksud memberikan amal yang banyak kepada kita. Jika dengan kepemimpinan tersebut kita bisa mengajak keluarga dan orang lain kejalan yang lurus, maka kita akan mendapatkan bagian amalnya. Akan tetapi apabila kita terpengaruh dengan pujian-pujian tersebut sehingga kita merasa besar dan mulia, maka kita telah merampas hak Allah Ta’ala yang membuat Allah Ta’ala murka kepada kita. Karena didalam salah satu hadits qudsi Allah Ta’ala bersabda : “Keagungan adalah selendang-Ku, kebesaran adalah sarung-Ku. Barang siapa yang merampasnya dari-Ku, maka akan Aku benamkan kedalam api neraka”. Karena yang berhak dipuji, dibesarkan, diagungkan dan dimuliakan hanyalah Allah Ta’ala. Ingat...., penyakit merasa besar dan mulia ini tidak menimpa orang-orang kaya saja, atau orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi saja, atau orang-orang yang berilmu saja. Akan tetapi penyakit ini menimpa semua orang. Oleh sebab itu kita harus berhati-hati dan yakinlah bahwa yang pantas dibesarkan dan dimuliakan hanyalah Allah Ta’ala. Karena kita ini hanyalah sebatas perantara Allah Ta’ala dan apabila bisa melakukan segala sesuatu hanyalah karena izin dan pertolongan-Nya. A. Sisi Tafakkurnya Didalam melakukan kebaikan, apakah kita minta dinilai oleh Allah Ta’ala atau minta dinilai oleh manusia? Seberapa banyak perbuatan baik yang kita lakukan yang berharap dihargai oleh manusia dan seberapa yang kita mengharap penilaian hanya dari Allah Ta’ala? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin apabila bisa memimpin dirinya sendiri dan orang lain, semata-mata karena pertolongan dan amanah dari Allah Ta'ala. Sehingga dia sangat yakin bahwa yang berhak dibesarkan dan dimuliakan hanyalah Allah Ta'ala. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia selalu menempatkan dirinya sebagai perantara Allah Ta'ala didalam memberikan kebaikan kepada orang lain. Baik dengan harta, ilmu atau tenaga, sehingga bisa menjadi amal diakhirat kelak. Dan apabila Allah Ta'ala telah menolongnya serta mengizinkannya berbuat baik kepada orang lain, maka sedikitpun dia tidak menjadi sombong dan merasa mulia. Karena dia yakin bahwa dirinya hanya sebatas perantara Allah Ta'ala saja, dan apapun yang dapat dia lalukan semata-mata adalah karena izin dan pertolongan Allah Ta'ala. Oleh sebab itu yang berhak dibesarkan dan dimuliakan hanyalah Allah Ta'ala. Rasulullah SAW adalah manusia yang paling banyak amal. Karena beliau adalah perantara Allah Ta'ala didalam mengajarkan ilmu, iman, islam dan akhlaq mulia. Sehingga apabila ada orang yang beriman, berbut baik dan berakhlaq mulia, maka beliau akan mendapatkan bagian amalnya. Akan tetapi sedikitpun beliau tidak pernah merasa besar dan ingin dimuliakan oleh orang lain. Bahkan beliau bersabda : “Apabila ada orang yang memujimu, maka lemparlah mukanya dengan tanah”. Bagi orang-orang yang menghendaki kehidupan duniawi, apabila dia dititipi harta, atau ilmu, atau kekuasaan, biasanya dia ingin menjadikan orang lain sebagai anjingnya. Dia ingin dihormati, dimuliakan, keinginannya selalu dipatuhi dan lain sebagainya. Padahal andaikata Allah Ta'ala menghendaki, dalam sekejap saja Allah Ta'ala bisa mencabut hartanya, ilmunya atau kekuasaannya. Oleh sebab itu kenapa dia merasa besar dan sombong? Orang-orang yang bertaqwa hanya mau memimpin orang-orang yang mau mengendalikan hawa nafsunya. Dia tidak mau memimpin orang-orang yang selalu memperturutkan hawa nafsu. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami tidak merasa besar dan mulia dihadapan manusia. F. Sikap Orang Bertawakkal Apabila dia bisa menjadi perantara Allah Ta'ala didalam memberikan kebaikan-kebaikan kepada orang lain, sedikitpun dia tidak merasa besar dan mulia. Kemudian setelah itu dia berserah diri kepada Allah Ta'ala. Dan dia sangat berharap kiranya Allah Ta'ala menambah kesempatan kepadanya untuk lebih banyak lagi menjadi perantara-Nya. G. Sikap Orang Mukhlis Dia sangat ikhlas apabila telah melakukan suatu kebaikan tidak mendapat pujian dari manusia. Atau mungkin dia justru mendapat hinaan dan orang yang diberi tersebut tidak berterima kasih kepadanya. Bahkan apabila ada orang yang memujinya, dia sangat malu dan takut. Akan tetapi kebanyakan manusia ingin selalu diakui keberadaannya (eksistensinya). Sehingga apabila ada orang lain yang tidak menghargainya, tidak menghormatinya, maka dia akan marah dan sakit hati. Apabila kita melakukan kebaikan, kemudian ada orang lain yang mencela atau tidak menghargai kebaikan kita tersebut, apakah didalam hati kita masih ada rasa kecewa dan sakit hati? Jika masih berarti kita belum ikhlas. Karena orang mukhlis tidak mempermasalahkan semua itu. Apakah orang lain akan menghinanya, atau tidak menghargainya. Yang penting dia telah berbuat baik. Apabila seorang laki-laki bekerja, kemudian dia minta dilebih-lebihkan, dihormati, dihargai oleh keluarganya, berarti dia belum ikhlas didalam bekerja. Begitupun juga seorang ibu yang telah memasak apabila tidak dihargai dia marah, maka dia juga belum ikhlas. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Dzul Jalali Wal Ikram Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan diberikan oleh Allah kepemimpinan, sehingga ia akan memimpin umat ini karena ia telah dapat memimpin dirinya sendiri. Dan kepemimpinannya tidak menjadikan ia sombong, karena ia betul-betul menyadari bahwa dirinya hanya sebagai perantara Allah Ta’ala. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Dzul Jalali Wal Ikram Ya Allah, jadikanlah kami sebagai perantara-perantaraMu dalam memimpin orang-orang yang bertaqwa dan mengingatkan manusia, sehingga apabila mereka diberikan kepemimpinan tidak menjadikan mereka merasa besar dan mulia. Agar manusia dapat melihat bahwa sesungguhnya kebesaran dan kemuliaan itu hanyalah milik-Mu.